Postingan Populer

Yuk! Kita Baca disini Potensi Bisnis Pulsa

Prospek bisnis pulsa di zaman sekarang ini sangat bagus, karena dilihat dari gaya hidup masyarakat sekarang sudah modern. Terbukti dengan banyaknya orang yang sudah memiliki telepon seluler dari mulai kalangan bawah sampai atas bahkan sampai mahasiswa atau pelajar. Ngomong-ngomong masalah pelajar, ternyata bisnis ini sangat bagus untuk dijalankan oleh mahasiswa atau pelajar. Ada beberapa alasan kenapa hal tersebut usaha yang bagus bagi para mahasiswa atau pelajar.

Alasan pertama karena jaringan anak pelajar atau mahasiswa yang masih dalam ruang lingkup pendidikan masih sangat luas. Target pasarpun sudah sangat jelas yaitu para anak-anak yang ada dalam ruang lingkup pendidikan tersebut.



Alasan kedua yaitu modal yang dibutuhkan untuk berjualan pulsa ini cukup kecil sehingga masih bisa dijangkau oleh kantong anak sekolahan. Jika tidak mau mengeluarkan modal, bisa juga dengan mencari agen yang membuka peluang untuk berjualan pulsa bagi masyarakat yang nantinya akan mendapatkan upah dari hasil penjualan tersebut.

Alasan ketiga yaitu pulsa di zaman sekarang hampir seperti nasi yang setiap orang membutuhkannya. Apalagi anak sekolahan yang selalu mengikuti zaman, sehingga hampir setiap siswa di sebuah lembaga pendidikan mempunyai yang namanya telepon seluler.

Alasan-alasan inilah yang menjadikan bisnis pulsa ini cukup menguntugkan. Melakukan bisnis seperti ini tidak harus selalu memunyai yang namanya counter untuk berjualan. Maka dari itu siapapun bisa menjalankan usaha ini termasuk pelajar dan mahasiswa.

Kekerasan Bukan Solusi Mendidik Anak

Seorang anak menjadi salah satu korban tindak kekerasan yang dilakukan oleh wali kelasnya. Konon katanya, sang guru sudah kewalahan dengan tingkah laku sang murid yang tak bisa diatur dan selalu melanggar aturan. Tindak kekerasan pun dinilai sebagai salah satu cara yang bisa membuat anak didiknya berubah. Berhasilkah? Nyatanya, sang guru tersebut malah masuk penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Kasus lain, seorang guru tega melakukan tindakan amoral kepada anak didiknya hanya karena sang anak didik sering terlambat. Padahal, guru tersebut dikenal sebagai orang yang sabar dan baik. Orangtua si anak tak terima dan melaporkan kejadian tersebut ke pihak yang berwajib. Alhasil, sang guru harus merasakan dinginnya hotel prodeo karena kekhilafannya.

Kekerasan Bukan Solusi Mendidik Anak

Kejadian di atas merupakan dua contoh kasus di antara berbagai macam kasus yang sering kita jumpai akhir-akhir ini. Penyiksaan terhadap anak didik yang dilakukan oleh pihak yang ditinggikan oleh masyarakat dan berpendidikan, yaitu guru.

Tindakan guru tersebut bagaimana pun juga jelas melanggar hukum. Seorang guru seharusnya mengerti etika pendidikan. Bagaimana pun juga, kekerasan tidak bisa menyelesaikan masalah dan malah memperparah.

Sekarang, bukan zamannya lagi “penyiksaan” terhadap anak didik bila mereka tak menurut terhadap perintah guru. Guru bukanlah segalanya dan bukanlah “Tuhan” bagi murid. Bila dulu melakukan tindak kekerasan terhadap murid karena tidak mengerjakan PR dianggap wajar, namun sekarang berbeda. Sedikit saja seorang guru melukai murid secara fisik, maka guru tersebut bisa dituntut dan masuk penjara.

Seorang guru haruslah mengerti tentang etika pendidikan. Tugas mereka tak hanya mengisi “bak yang kosong dengan air”, namun juga membentuk kepribadian anak didik yang baik. Dan, bagaimana mungkin seorang guru bisa membentuk kepribadian anak yang baik bila mereka sendiri suka melakukan tindak kekerasan dengan alasan untuk mendidik. Sama saja hal tersebut melanggar etika pendidikan.

Mendidik tidak harus dengan kekerasan. Itulah salah satu etika pendidikan yang wajib dipahami oleh semua guru. Ingatlah bahwa anak didik bukanlah komputer atau mesin yang bila kita kesal bisa dibanting sepuasnya. Anak didik adalah amanah bagi seorang guru. Anak didik adalah “titipan” yang sudah selayaknya dijaga. Bila ada sesuatu yang membuat guru tersinggung dan marah dengan ulah anak didiknya, selesaikanlah dengan baik-baik dan tidak dengan menggunakan kekerasan karena hal tersebut sangat melanggar etika pendidikan.

Seorang guru haruslah memandang seorang anak didik sebagai sebuah aset yang harus dilindungi dan bukan “dieksploitasi”. Bila dalam proses belajar mengajar ada sesuatu yang kurang baik di antara guru dan anak didik, sudah seharusnya hal tersebut diselesaikan dengan cara yang baik.

Top