Mengatur pola makan sudah. Rutin berolahraga juga iya. Namun menurut dr. Andreas Prasadja, RPSGT, praktisi kesehatan tidur dari Rumah Sakit Mitra Kemayoran, Jakarta, dan AP Snoring and Sleep Disorder Clinic, masih ada faktor lain yang turut memengaruhi kondisi gula darah Anda: Tidur.

Sejumlah penelitian membuktikan kaitan antara kurang tidur dan diabetes. Penelitian yang dimuat dalam jurnal The Annals of Internal Medicine menyebutkan bahwa pola tidur berpengaruh kepada kadar gula darah, hormon yang mengontrol nafsu makan, bahkan persepsi otak akan makanan berkalori tinggi. Penelitian itu juga mengungkapkan, kurang tidur dapat mengurangi kemampuan sel lemak merespons insulin. Sementara dalam jurnal Diabetes Care, para peneliti dari University of Chicago menemukan, pengidap diabetes yang memiliki pola tidur yang buruk memiliki kadar glukosa lebih tinggi dan lebih sulit mengendalikan penyakitnya.

Penelitian lain dari University of Buffalo, New York, menemukan bahwa tidur kurang dari enam jam setiap malam dapat mengakibatkan kadar glukosa dalam tubuh tidak bisa diatur dengan efisien, hormon perangsang nafsu makan meningkat hingga 28 persen, toleransi tubuh terhadap glukosa berkurang, serta produksi kortisol meningkat, sehingga sistem saraf dan pankreas akan cepat lelah dan memicu rasa lapar serta menaikkan kadar gula dalam darah.

Padahal, menurut dr. Andreas, secara umum manusia dewasa membutuhkan waktu tidur antara tujuh hingga sembilan jam sehari. Parameternya, jika saat bangun tidur di pagi hari tubuh Anda terasa segar bugar, dan di siang hari Anda tidak mengantuk, meski tanpa stimulan berupa kaafein dan nikotin, itu berarti tidur Anda sudah cukup dan berkualitas.

Namun dr. Andreas menyebutkan bahwa sebenarnya yang sangat berpengaruh terhadap diabetes bukanlah pola tidur atau kurang tidur, melainkan penyakit mendengkur atau sleep apnea. “Itu justru pengaruhnya besar sekali. Ada penelitian yang bilang, sekitar 58-60% sleep apnea berkaitan dengan diabetes,” tambah dr. Andreas.

Hal itu karena sleep apnea membuat orang jadi mengantuk terus, sehingga kualitas tidurnya jelek, apalagi pengidap sleep apnea juga bisa berulang kali mengalami henti napas saat tidur. “Henti napas itu bikin orang terbangun-bangun tanpa terjaga. Ditambah dengan kadar oksigen yang naik-turun terus sepanjang malam, maka badan jadi tidak istirahat,” papar dr. Andreas. Itulah yang disebut stres oksidatif, badan jadi seperti stres. Akibatnya, metabolisme tubuh pun terganggu, dan gula darah naik.

Sejak 2012, ungkap dr. Andreas, International Diabetes Forum (IDF) pun sudah menyerukan bahwa semua pengidap diabetes tipe 2 harus menjalani skrining tentang kemungkinan menderita sleep apnea. “Jadi, walau belum konklusif, tetapi seruan IDF itu sudah jelas, dengan mengatasi sleep apnea, maka kontrol gula darah jadi lebih baik,” tambahnya.

SEO Sponsors

Sebuah tulisan penuh makna
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment


Top